SIM-TIK Sosialisasikan Pengembangan Pusat Data Terintegrasi

 

SEBAGAI perguruan tinggi, Universitas Lampung (Unila) perlu memiliki Pusat Data Terintegrasi. Hal ini diperlukan agar kebutuhan data dapat dilayani dalam waktu cepat dan terjamin validitasnya. Dengan adanya pusat data terintegrasi maka kebutuhan data untuk pengambilan keputusan dapat dicukupi.

 

 

 

 

Untuk mendukung pengembangan pusat data teritegrasi tersebut, Bagian Sistem Informasi di BPHM dan UPT TIK bekerja sama menggelar Sosialisasi Aplikasi Data Universitas Lampung di ruang Computer Center Gedung TIK Unila lantai 2, Selasa (11/10).  

 

Kepala BPHM Harsono Sucipto, S.H., M.H., dalam laporannya mengungkapkan, Unila beberapa kali mengalami ketidakperpaduan sumber data. Oleh karena itu sangat diperlukan sebuah sistem aplikasi yang mampu mengurai ketidaksinkronan sumber data tersebut. 

 

“Maka kami melalui bagian Sistem Informasi menggelar sosialisasi kepada para kajur, kaprodi, dan sekaligus pelatihan pengisian oleh operator dari masing-masing unit kerja. Output kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan update data yang akurat dan dapat diperoleh melalui satu sistem yakni melalui sistem data terpadu Unila,” ujarnya. 

 

Wakil Rektor IV Unila Prof. Mahatma Kufepaksi sebelum membuka kegiatan menambahkan, validitas sebuah data sangat penting apalagi Unila kini tengah berproses menuju menuju top ten university. Maka ke depan data harus mudah diakses oleh siapapun, betul-betul valid, mudah diakses, sehingga data yang lebih terpusat bisa diproses secara efektif dan efisien. 

 

Ing. Hery Dian Septama, S.T., yang menjadi pemateri dalam sosialisasi tersebut menjelaskan, kebutuhan data sangat diperlukan misalnya untuk menunjang Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT), akreditasi program studi, Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) Dikti, pidato rektor, dan Unila dalam angka. 

 

Meski Universitas Lampung sudah membangun beragam sistem informasi untuk menunjang kegiatan yang dilaksanakan, namun kondisi sistem informasi yang dikembangkan belum terintegrasi sehingga setiap sistem ini ternyata menimbulkan berbagai permasalahan baru. “Antara lain, pengisian informasi yang sama secara berulang-ulang, terdapat informasi ganda, kesulitan sinkronisasi data lama dengan data yang lebih baru, beban server yang meningkat dan sebagainya,” tukas Herry.[inay/humas]